Minggu, 26 Oktober 2014

Si Sikunir

Golden Sunrise
Siapa tak kenal sikunir dengan Golden Sunrise nya?
Ya, Golden Sunrise yang membuat kita takjub akan keindahan yang diciptakan oleh-Nya.
Golden Sunrise yang membuat kita lupa akan lelah yang dirasakan.
Awalnya, saya berniat melakukan perjalanan backpacker ini dengan tiga teman backpacker saya. Namun, karena satu dan lain hal niat itu GAGAL!!! Hal ini tidak membuat saya goyah untuk melakukan perjalanan backpacker ke daerah Dieng. Akhirnya, saya pun membulatkan niat dengan mengajak dua adik kos saya.
Dengan modal informasi yang saya dapatkan dari mbah google, saya pun berangkat ke daerah Dieng bersama dua adik kos saya.
Nah, puncak Sikunir adalah tujuan utama saya dan dua adik kos saya walaupun kami juga memiliki tujuan wisata lainnya. Namun, puncak Sikunir adalah tujuan utama atau TUJUAN WAJIBnya!!!
Siang itu, 24 Oktober 2014, saya dan dua adik kos saya tiba di daerah Dieng setelah perjalanan panjang dari Solo pada pukul 05.00 WIB. Setibanya disana, saya dan dua adik kos saya check in di penginapan yang sudah kami booking, kemudian shalat dzuhur. Setelah itu, saya dan dua adik kos saya berniat mencari makanan karena kami sudah merasa sangat lapar. Ketika sampai di pertigaan Dieng, terdapat deretan warung makan yang beraneka ragam. Namun, karena saya dan dua adik kos saya berencana makan mie ongklok (makanan yang terkenal di daerah Wonosobo, termasuk Dieng), kami pun bertanya kepada tukang ojek dimanakah kami dapat menemukan warung mie ongklok. Setelah perbincangan yang tidak terlalu lama dengan Si tukang ojek, akhirnya kami pun melakukan persetujuan untuk melakukan perjalanan wisata dengan  Si tukang ojek tersebut karena Si tukang ojek akan mengantar kami ke warung mie onglok di sekitar telaga warna. Selain itu, Si tukang ojek juga mengantar kami ke kawah sikidang dan candi arjuna.
Keesokan harinya, Si tukang ojek sudah menunggu saya dan dua adik kos saya di depan penginapan pada pukul 03.30 WIB karena kami akan menuju puncak Sikunir. Saya dan dua adik kos saya pun akhirnya berangkat ke puncak Sikunir pada pukul 04.00 WIB karena kami menunggu adzan subuh terlebih dahulu. Sesampainya di Sikunir, saya dan dua adik kos saya jalan menuju puncak Sikunir dengan dipandu Si tukang ojek.
Awalnya, saya dan dua adik kos saya sangat bersemangat menuju puncak Sikunir hingga kami mengeluh ketika jalur menuju puncak Sikunir macet karena padatnya pengunjung. Akhirnya, Si tukang ojek pun mengajak kami ke jalur yang tidak ramai digunakan pengunjung.
Ya, jalur yang memang sangat sangat jarang digunakan pengunjung karena jalur track nya yang lebih tajam. Jalur yang membuat salah satu adik kos saya harus berhenti beberapa kali. Jalur yang membuat nafas lebih tidak teratur. Jalur yang membuat kaki lebih bergetar. Jalur yang membuat peluh keluar lebih banyak. Jalur yang membuat kami lebih lelah. Dan jalur yang membuat kami sempat berniat membatalkan menuju puncak Sikunir. Namun, kami kembali meluruskan niat kami dan saling menyemangati satu sama lain. Dengan kaki yang sudah sangat bergetar, dengan bibir pucat karena kedinginan, dengan nafas yang terengah-engah, kami pun tiba di puncak Sikunir walaupun salah satu adik kos saya sempat tertinggal di bawah bersama Si tukang ojek karena berhenti beberapa kali.
Setibanya di puncak Sikunir, saya duduk sebentar untuk minum dan istirahat. Rasanya saya sangat lelah, kaki saya masih sangat bergetar, dada saya masih berdebar-debar, kepala saya masih pusing, bibir saya masih pucat karena kedinginan, dan nafas saya masih terengah-engah. Kemudian, salah satu adik kos saya yang sempat tertinggal akhirnya sampai juga di puncak Sikunir.
Ketika matahari mulai muncul dengan malu-malu, yang pada akhirnya menjadi Golden Sunrise, membuat saya melupakan lelah yang saya rasakan. Subhanallah, begitu indah ciptaan-Nya. Saya tak henti-hentinya berdecak kagum. Saya dan dua adik kos saya pun tak henti-hentinya mengabadikan gambarnya.
Saya juga sempat tersirat dan berharap, saya bisa melihat Golden Sunrise lainnya dari puncak gunung lainnya dengan pasangan saya. Ya, harapan dan keinginan yang mungkin mustahil menjadi kenyataan karena kondisi kesehatan pasangan saya. Namun, saya tetap merasa bahagia karena semua keajaiban ciptaan yang diberikan-Nya.
Saya dan dua adik kos saya pun tidak lupa mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam dari puncak Sikunir dengan segala keindahan dan keajaiban yang diciptakan oleh-Nya. Alhamdulillah.. Saya sangat sangat bersyukur masih bisa merasakan nikmat yang diberikan oleh-Nya.

Jumat, 17 Oktober 2014

living with schizofrenia

What do you think when you hear about RSJ?
You must be afraid right?
No, you must not be afraid..
The people who have mental disorder are human too..
They are mad, but they are not bad..

Have you ever lived with the people who have mental disorder?
I guess you never imagine about that even you don't want it right?
I ask you to try it! Cause it's amazing experience..
You know, I had ever lived with them..
I think it's cool right?
When I might do my apprentice in other city and I might live in dormitory where it's located surroundings RSJ, it means I would meet the mental disorder patient every time. And it happened for one month.
At the first time I arrived at RSJ, honestly, I felt afraid too.. but when the patient came to us, they just wanna to say hello and just wanna to introduce their self. That's it!
They just needed a person who can receive them, who can hear them, and who can appreciate them. When you just can receive them, it's okay, it has been enaugh. But it's amazing when you can hear and appreciate them.
I enjoyed when I lived with them, cause I got many value from them. I could learn from their experiences which made them might be at there.
It's cool when they could talk to you and they could talk about their problems. It means, they were trust to you right? But, the key is 'you must receive them first'.

Do you think live with the people who have mental disorder can make you have mental disorder too?
No, it doesn't.
They made us laugh but they didn't make us mad.
And it's true if you can make them have mental health. The key is 'receive, hear, and appreciate them'.

Living with them is easy, cool, and amazing!

Sabtu, 22 Maret 2014

Tahun Ketiga

Tidak terasa saya sudah memasuki tahun ketiga menimba ilmu di Psikologi UNS.

Kampus yang awalnya lebih terkesan seperti bangunan SD, mengajari saya kesederhanaan. Tidak hanya kampus, bahkan orang-orang yang berada di dalamnya pun sangat sederhana. Kesederhanaan yang penuh cinta dan kejujuran.

Kampus yang jarang ditengok oleh orang-orang, nyatanya telah mengajari saya banyak hal. Di kampus inilah, saya belajar berbagi. Di kampus inilah, saya belajar bagaimana menjalankan amanah yang diberikan. Di kampus inilah, saya belajar bagaimana memahami antara satu orang dengan orang lain. Di kampus inilah, saya belajar ketulusan. Di kampus inilah, saya diharuskan untuk terus berjuang. Kampus yang nyatanya sangat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan saya menuju kedewasaan.

Rasa syukur ku haturkan kepada-Nya karena telah memberikan kesempatan kepadaku untuk menimba ilmu di Psikologi UNS. Karena, di kampus ini juga lah, saya diajarkan dan diingatkan untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya.

Tahun Ketiga yang tak ternilai :)

Entri Populer